Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2009

Awal Karir Slank


Slank adalah sebuah grup musik terkenal di Indonesia. Dibentuk oleh Bimbim pada 26 Desember 1983 karena bosan bermain musik menjadi cover band dan punya keinginan yang kuat untuk mencipta lagu sendiri.

Awal Karir

Cikal bakal lahirnya Slank adalah sebuah grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) bentukan Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada awal tahun 80-an. Band ini hanya memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan tak mau memainkan lagu dari band lain, alhasil mereka akhirnya jenuh dan menjelang akhir tahun 1983 grup ini dibubarkan.


[1]

Bimbim meneruskan semangat bermusik mereka dengan kedua saudaranya Denny dan Erwan membentuk Red Evil yang kemudian berganti nama jadi Slank[2], sebuah nama yang diambil begitu saja dari cemoohan orang yang sering menyebut mereka cowok selengean[1] dengan personel tambahan Bongky (gitar) dan Kiki (gitar). Kediaman Bimbim di Jl. Potlot 14 jadi markas besar mereka.

Mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri sebelum Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank.[1] Dengan perjuangan panjang terbentuklah formasi ke-13, Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra, Slank baru solid.[2]

Dengan formasi Bimbim (Drum), Bongky (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal) dan Indra (Keyboard) mereka mulai membuat demo untuk ditawarkan ke perusahaan rekaman.[1]

Setelah berulang kali ditolak, akhirnya tahun 1990 demonya diterima dan mulai rekaman debut album Suit-Suit... He He He (Gadis Sexy). Album yang menampilkan hit Memang dan Maafkan itu meledak dipasaran sehingga mereka pun diganjar BASF Award untuk kategori pendatang baru terbaik. Album kedua mereka, Kampungan pun meraih sukses yang sama. [1]


Narkoba

Keterlibatan para personelnya dengan narkoba sempat melahirkan keretakan di tubuh band yang bermarkas di jalan Potlot ini. Pada saat menggarap album keenam (Lagi Sedih), Bimbim selaku leader akhirnya memutuskan untuk memecat Bongky, Pay dan Indra.[1] Kaka dan Bimbim tetap menggarap album ke-6 dengan bantuan additional player[2].

Sebagai gantinya mereka merekrut Ivanka (Bass), Mohamad Ridho Hafiedz (Ridho) dan Abdee Negara (Abdee). Formasi ini bertahan hingga saat ini dan mereka terus melahirkan karya-karya yang menegaskan eksistensi mereka di dunia musik Indonesia.[1]



Diskografi

  1. 1990 - Suit-Suit....Hehehe (Gadis Sexy)
  2. 1991 - Kampungan
  3. 1993 - Piss
  4. 1995 - Generasi Biru
  5. 1996 - Minoritas
  6. 1996 - Lagi Sedih
  7. 1997 - Tujuh
  8. 1998 - Mata Hati Reformasi
  9. 1999 - 999+09
  10. 2001 - Virus
  11. 2003 - Satu Satu
  12. 2003 - Bajakan!
  13. 2004 - Road to Peace
  14. 2005 - PLUR
  15. 2006 - Slankissme
  16. 2007 - Slow But Sure
  17. 2007 - Original Soundtrack "Get Married"
  18. 2008 - Slank - The Big Hip
  19. 2008 - Anthem For The Broken Hearted
  20. 2009 - Original Soundtrack Generasi Biru

Read More......

J-Rocks


J-Rocks adalah band yang berdiri pada tahun 2003 dengan personil Iman (vokal, gitar), Sony (gitar), Wima (bas), dan Anton (drum). Aliran band mereka adalah Japanese pop/rock. Album perdana mereka, Topeng Sahabat dirilis pada tahun 2005 dan mengisi dua lagu di album OST Dealova yaitu "Into the Silent" dan "Serba Salah". Saat ini mereka dinaungi oleh label Aquarius Musikindo. Pencinta J-Rocks biasa disebut J-Rockstars.

Banyak fans fanatik band Jepang L'Arc~en~Ciel di Indonesia yang menuding bahwa dalam membuat lagunya, J-rocks meniru lagu-lagu L'Arc~en~Ciel. Sangat wajar bila beberapa lagu J-rocks mirip dengan lagu-lagu Laruku karena J-rocks memang terinspirasi oleh band yang satu ini.[rujukan?] Dan juga J-Rocks terinspirasi oleh Muse.[rujukan?]

Pada album keduanya, Spirit, J-Rocks memasukkan bermacam-macam beat dan aliran musik seperti Rock 'n Roll (Juwita Hati), Waltz/ Victorian (Tersesal), Blues, Classic, dan masih banyak lagi. Di album kedua ini, J-Rocks juga menampilkan Prisa.

J-Rocks


Nama J-rocks sempat menjadi kontroversi di kalangan pecinta musik jepang di indonesia. Nama ini seakan mewakili genre Japanese Rock. Inspirasi nama J-ROCKSTARS adalah dari sebuah stiker bertuliskan ROCKSTAR, dengan harapan suatu saat akan menjadi Rockstar. Dan ditambahkan huruf J di depannya untuk mewakili band itu sendiri dengan alasan J bisa berarti Jepang karena awalnya mereka memainkan J-Music, Jakarta karena mereka berasal dari Jakarta, Jujur dalam bermusik dalam artian memainkan apa yang bener-bener mereka suka dan ingin memainkan musik yang ber-soul (jiwa). Dan akhirnya karena permasalahan pengucapan akhirnya nama J-ROCKSTARS disingkat menjadi J-ROCKS. Nama J-ROCKSTARS sendiri akhirnya menjadi nama fans J-ROCKS.

Awal 2004 JRS (singkatan dari J-ROCKSTARS) mengikuti festival musik Nescafe Get Started 2004 yang disponsori oleh Nescafe, Trans TV dan Aquarius Musikindo. Mereka berhasil menjuarai festival tersebut dan berkesempatan membuat album kompilasi Nescafe Get Started yang merupakan awal bentuk kerjasama mereka dengan Aquarius Musikindo. Dan akhirnya pertengahan 2005 mereka berhasil meluncurkan album perdana nya yang bertajuk "Topeng Sahabat" dengan label Aquarius.

Band ini semakin dikenal sejak munculnya album kedua. Pada lagu berjudul 'Kau curi lagi' mereka memperkenalkan gitaris wanita, Prisa. Dan pada lagu 'Juwita Hati' mereka membuat video klip di Jepang yang digarap oleh Hedy Suryawan. Selvin,Sato,Boppy pada video klip ini berakting sebagai fans J-Rocks yang mengejar idolanya sampai ke negeri Sakura. Konsep yang menarik membuat video klip ini populer di Indonesia.


Diskografi

Read More......

Ungu



Ungu adalah grup musik Indonesia yang beranggotakan Pasha (penyanyi), Makki (bass), Enda (gitar), Oncy (gitar), dan Rowman (drum). Sampai tahun 2007 mereka telah menghasilkan 4 album dan 2 album mini.

Ungu terbentuk tahun 1996. Motor pembentuknya adalah Ekky (gitar) dan saat itu vokalisnya adalah Michael, sedangkan drum dipegang oleh Pasha Van derr Krabb. Tahun 1997, saat Ungu hendak manggung, Pasha Van derr Krabb 'menghilang' dan posisinya digantikan oleh Rowman. Enda yang sebelumnya adalah roadies-nya Ekky juga ikut bergabung dengan Ungu.

Tahun 2000, Ungu mulai mempersiapkan album pertama mereka, yang akhirnya dirilis 6 Juli 2002 bertajuk Laguku. Sebelumnya, Ungu ikut mengisi 2 lagu di album kompilasi Klik bersama Lakuna, Borneo, Piknik, dan Energy. Ke dua lagu tersebut adalah "Hasrat" dan "Bunga". Single pertama album ini, "Bayang Semu" menjadi ost. sinetron ABG (RCTI). Meski terbilang sukses, album ini baru mendapat Platinum Award setelah hampir 2 tahun album ini dirilis.

Saat hendak masuk dapur rekaman untuk album kedua, Ekky memutuskan keluar. Oncy yang saat itu baru keluar dari Funky Kopral dipilih untuk menggantikan Ekky. Album kedua Ungu Tempat Terindah dirilis Desember 2003. Album ini menjagokan "Karena Dia Kamu" sebagai single pertama dan "Suara Hati" dipilih sebagai single kedua. Baru empat bulan dirilis, penjualannya telah mencapai 80.000 (delapan puluh ribu) kopi. Jumlah yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan album pertama yang 'telah' mendapatkan platinum (150.000 kopi) dalam hitungan waktu satu setengah tahun.[1]

Pada tahun 2005, Ungu menjadi salah satu artis yang berkolaborasi dengan Chrisye di album terbaru Chrisye, "Senyawa".

Album Melayang dirilis Desember 2005. Di albumnya yang ketiga dengan single "Demi Waktu", Ungu mendapat double platinum.[2] Dengan hits Demi Waktu mengantarkan Ungu jadi MTV Exclusive Artis di bulan Desember 2005. Gaung "Demi Waktu" merambah negeri Jiran, Malaysia. Empat perusahaan label berebut untuk mendapatkan hak edar di sana. SRC, perusahaan yang menaungi Siti Nurhaliza akhirnya keluar sebagai pemenang.[3]

Ungu mengeluarkan sebuah mini album untuk menyambut Ramadhan 1427 H bertajuk SurgaMu yang dirilis September 2006.[4] Hanya dalam tempo sepuluh hari sejak rilis mini album SurgaMu, telah terjual sebanyak 150 ribu keping.[5] Bahkan Wakil Presiden Yusuf Kalla memberi penghargaan 'Inspiring' atas album religi SurgaMu. Sayangnya, saat hendak menerima penghargaan di istana Wapres, Ungu yang mengenakan setelah jas yang dipadu celana jeans ditolak masuk ke dalam istana, dengan alasan pakaian yang tak sesuai dengan protokoler istana.[6]

Dalam Penghargaan MTV Indonesia 2006, Ungu masuk dalam 3 nominasi, yaitu Most Favorite Group/Band/Duo, Best Director "Demi Waktu" Abimael Gandy, dan Video of the Year "Demi Waktu".[7]

Ungu dengan dukungan "A Mild Live Productions" dan "Trinity Optima Productions" membuat buku biografi. Buku yang diberi judul "A Mild Live Ungu Book Magazine" itu diluncurkan pada Kamis, 10 Mei 2007, di Jakarta.[8] Dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar, buku tersebut memuat biografi masing-masing personil, diskografi Ungu, foto-foto, dan bahkan chord lagu-lagu Ungu.[9]

Ungu juga sering terlibat dalam pembuatan album soundtrack. Ungu pernah menyumbangkan lagu untuk film Buruan Cium Gue yang dilarang edar. Ungu pun menyumbangkan 3 buah lagu untuk film Coklat Stroberi yakni dua lagu baru, "Disini Untukmu" dan "Sahabatku", serta mengikutkan lagu "Berjanjilah" dari album ketiga mereka Melayang.[10]

Dalam ajang "SCTV Music Awards 2007" di Balai Sidang Jakarta (JHCC), Ungu mendapat 4 kemenangan. Album SurgaMu yang diproduseri Trinity/Prosound membawa Ungu menjadi penerima penghargaan 'Album Religi', 'Lagu Paling Ngetop' dan 'Video Klip Paling Ngetop' untuk lagu "Andai Kutahu". Sedangkan Melayang dengan lagu andalan "Tercipta Untukmu" memenangkan kategori 'Album Pop Rock Duo/Grup'.[11]

Ungu kembali merilis album reguler keempatnya bertajuk Untukmu Selamanya. Album ini di-launching di empat negara sekaligus, yaitu 9 Agustus 2007 di Kuala Lumpur, Malaysia, 10 Agustus 2007 di Singapura, 12 Agustus 2007 Hongkong dan puncaknya 15 Agustus 2007 di Jakarta, Indonesia. Lagu andalan dalam album ini antara lain, "Kekasih Gelapku", "Cinta dalam Hati", "Apalah Arti Cinta" dan "Ijinkan Aku".[12]

Menyambut Ramadhan 1428 H, Ungu merilis album religi lagi yang berbentuk mini album bertajuk Para Pencari-Mu. Dalam album ini Ungu berkolaborasi dengan ustad Jeffry Al Buchori.[13] Album ini hanya berisi lima lagu, yaitu "Para PencariMu", "Sembah Sujudku", "Surga Hati", "Sesungguhnya", dan "Tuhanku". Sebelum mini album ini dirilis, tiga dari lima lagu telah terpilih sebagai soundtrack sinetron religi yang tayang selama Bulan Ramadhan.[14]

Ungu kembali meraih penghargaan untuk kategori 'Band Ngetop' di ajang SCTV Awards 2007, yang berlangsung di JCC Senayan Jakarta, Jumat, 24 Agusutus 2007. Dalam ajang itu, Ungu berhasil menyisihkan grup band lainnya, seperti Ada Band, Peterpan, Radja, dan pendatang baru yang mendadak populer, Kangen Band. Pada tahun 2007, Ungu bersama Samsons dan Naff, dijuluki 'The Rising Star' band oleh penyelenggara konser musik akbar Soundrenaline, A Mild Live Productions dan Deteksi Productions, juga oleh raksasa label rekaman Musica Studio.[15]

Kasus

Ketenaran, selain membawa penggemar yang banyak, juga menimbulkan dampak negatif. Seringkali konser Ungu 'memakan' korban. Saat konser di Mojokerto, Jawa Timur, 30 Maret 2006, puluhan wanita pingsan. Sembilan bulan kemudian, tepatnya 19 Desember 2006, konser "Popcoholic with Ungu" di Stadion Widya Mandala Krida, Kedungwuni, Pekalongan berakhir dengan kericuhan yang mengakibatkan 10 orang meninggal dunia dan enam lainnya luka serius karena terinjak-injak dan kekurangan oksigen ketika puluhan ribu orang berdesakan keluar usai menyaksikan konser mereka.[16]

Album

  • 2002: Laguku
  • 2004: Tempat Terindah
  • 2005: Melayang
  • 2007: Untukmu Selamanya

Album Religi

  • 2006: SurgaMu
  • 2007: Para PencariMu
  • 2008: Aku Dan Tuhanku

Album Soundtrack

  • 2007: Coklat Stroberi OST
  • 2007: Ayat-Ayat Cinta OST

Read More......

Koes Plus,,,, Band Legendaris Indonesia


Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Sampai sekarang, grup musik ini kadang masih tampil di pentas musik membawakan lagu-lagu lama mereka, walaupun hanya tinggal dua anggotanya (Yon dan Murry) yang aktif.

Lagu-lagu mereka banyak dibawakan oleh pemusik lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh, Lex's Trio membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, Cintamu T'lah Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis dan Sayang yang dibawakan oleh Kahitna.


Anggota grup

Koes Bersaudara

  1. John Koeswoyo
  2. Tonny Koeswoyo
  3. Yon Koeswoyo
  4. Yok Koeswoyo
  5. Nomo Koeswoyo

Koes Bersaudara

  1. Tonny Koeswoyo
  2. Yon Koeswoyo
  3. Yok Koeswoyo
  4. Nomo Koeswoyo

'setelah keluar dari penjara'

Koes Plus

  1. Tonny Koeswoyo
  2. Yon Koeswoyo
  3. Yok Koeswoyo
  4. Murry

Era Orde Lama

Pada Kamis 1 Juli 1965, sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan mengurung mereka di LP Glodok, kemudian Nomo Koeswoyo atas kesadaran sendiri, datang menyusul. Adik Alm Tony Koeswoyo itu rupanya memilih "mangan ora mangan kumpul" ketimbang berpisah dari saudara-saudara tercinta. Adapun kesalahan mereka adalah karena selalu memainkan lagu - lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik "ngak ngek ngok" istilah Pemerintahan berkuasa saat itu, musik yg cenderung imperialisme pro barat. Dari penjara justru menghasilkan lagu-lagu yang sampai saat sekarang tetap menggetarkan, "Didalam Bui", "jadikan aku dombamu", "to the so called the guilties", dan "balada kamar 15". 29 September 1965, sehari sebelum meletus G 30 S-PKI, mereka dibebaskan tanpa alasan yang jelas.



Dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus

Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi. Satu anggota Koes Bersaudara, Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry sebagai drummer. Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Nama Bersaudara seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar: Murry.

Sebenarnya lagu-lagu Koes Bersaudara lebih bagus dari segi harmonisasi ( seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes Plus. Saat itu Nomo, selain bermusik juga mempunya pekerjaan sampingan. Sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih. Akhirnya Koes Bersaudara harus berubah. Kelompok Koes Plus dimotori oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari keluarga Koeswoyo). Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu.

Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh lewat group Lemon Trees. Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.


Kiblat Musik Pop Indonesia

Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman maka group-group lain yang “seangkatan” seperti Favourites, Panbers, Mercy's, D'Lloyd menjadikan Koes Plus sebagai “kiblat”, sehingga group-group ini selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti pop melayu dan pop jawa menjadi trend group-group lain setelah Koes Plus mengawalinya.

"Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles"[rujukan?]

“Lagu Nusantara I” (Volume 5), “Oh Kasihku” (Volume 6), “Mari-Mari” (Volume 7), “Diana” dan “Kolam Susu” ( Volume 8) merajai musik pop waktu itu. Puncak kejayaan Koes Plus terjadi ketika mereka mengeluarkan album Volume 9 dengan lagu yang sangat terkenal “Muda-Mudi” (yang diciptakan Koeswoyo, bapak dari Tonny, Yon dan Yok). Disusul lagu “Bujangan” dan “Kapan-Kapan” dari volume 10. Masih berlanjut dengan lagu “Nusantara V” dari album Volume 11 dan “Cinta Buta” dari album Volume 12.

Bersamaan dengan itu Koes Plus juga mengeluarkan album pop Jawa dengan lagu yang dikenal dari tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, hinga anak-anak muda, yaitu “Tul Jaenak” dan “Ojo Nelongso”. Belum lagi lagu mereka yang berirama melayu seperti “Mengapa”, “Cinta Mulia” dan lagu keroncongnya yang berjudul “Penyanyi Tua”. Sayang sekali di setiap album yang mereka keluarkan tidak ada dokumentasi bulan dan tahun, sehingga susah melacak album tertentu dikeluarkan tahun berapa. Bahkan tidak ada juga kata-kata pengantar lainnya. Album mereka baru direkam secara teratur mulai volume VIII setelah ditandatangani kontrak dengan Remaco. Sebelumnya perusahaan yang merekam album-album mereka adalah “Dimita”.

Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus. Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.

Tahun 1972 Koes Plus sempat menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan. Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang berani tampil beda dengan menyanyikan lagu “Derita” dan “Manis dan Sayang”.


Rekor Album

Dari informasi yang dikirim seorang penggemar Koes Plus, ternyata prestasi Koes Plus memang luar biasa. Pada tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, yaitu terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album "the best" termasuk album-album instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman "master" yang kemudian diisi oleh permainan saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari group the Mercy's. Jadi rata-rata mereka mengeluarkan 2 album dalam satu bulan. Tahun 1975 ada 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album. Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record. Dan hebatnya, lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi memang hampir semua enak didengar. Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”: kunci C-F-G.

Karena banyak jasanya dalam pengembangan musik, masyarakat memberikan tanda penghargaan terhadap prestasinya menjadi kelompok legendaris dengan diberikannya tanda penghargaan melalui "Legend Basf Award, tahun 1992.Prestasi yang dimiliki disamping masa pengabdiannya dibidang seni cukup lama, produk hasil ciptaan lagunya pun juga memadai karena sejak tahun 1960 sampai sekarang berhasil menciptakan 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album. Prestasi hasil ciptaan lagu untuk periode kelompok Koes Bersaudara sebanyak 203 lagu (dalam 17 album),sedang untuk periode kelompok Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas,13 September 2001).

Salah satu anggota Koes Plus mengatakan bahwa mereka dibayar sangat mahal pada masa jayanya. Yon mengungkapkan bahwa pada tahun 1975 mereka manggung di Semarang. "Waktu itu pada tahun 1975, kami telah dibayar Rp 3 juta saat pentas di Semarang," kenang dia. Padahal, saat itu harga sebuah mobil Corona tahun 1975 kira-kira Rp 3,750 juta. Bila dikurs saat ini bayaran tersebut kurang lebih sama dengan Rp 150 juta.(Suara Merdeka, 4 Mei 2001)

Waktu itu, Rp 3,5 juta sangat tinggi, mengingat mobil sedan baru Rp 3 juta. Jika dikurskan dengan nilai uang sekarang, jumlah itu sama dengan Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Jumlah penonton melimpah ruah tidak seperti sekarang, kenang Yon. (Suara Merdeka, 23 Oktober 2001).

Setelah itu popularitas Koes Plus mulai redup. Mungkin karena generasi sudah berganti dan selera musiknya berubah. Koes Plus vakum sementara dan Nomo masuk lagi menggantikan Murry, sekitar akhir 1976-an. Koes Bersaudara terbentuk lagi dan langsung ngetop dengan lagunya “Kembali” yang keluar tahun 1977. Murry bersama groupnya Murry's Group juga cukup menggebrak dengan lagunya “Mamiku-papiku”. Tidak bertahan lama tahun 1978 kembali terbentuk Koes Plus. Lagu barunya, “Pilih Satu” juga langsung populer. Setelah itu keluar lagu “Cinta”, dengan aransemen orchestra, yang benar-benar berbeda dengan lagu Koes Plus yang lain. Kemudian populer juga album melayu mereka yang memuat lagu “Cubit-Cubitan” dan “Panah Asmara”. Tetapi Koes Plus generasi ini tidak lagi sepopuler sebelumnya. Walaupun, kalau disimak lagu-lagu yang lahir setelah 1978, masih banyak lagu mereka yang bagus.

Nasib Koes Plus kini sangat tragis. Seperti kata Yon suatu ketika bahwa Koes Plus hanya besar namanya tetapi tidak punya apa-apa. Ucapan ini memang pas untuk mewakili keadaan personel Koes Plus. Mereka tidak mendapatkan uang dari hasil penjualan kaset yang berisi lagu-lagu lama mereka. Tidak seperti para penyanyi/pemusik masa kini yang gaya hidupnya “wah” karena dari segi finansial pendapatannya sebagai penyanyi/pemusik cukup terjamin. Begitu juga bekas group-group tersohor seperti Beatles, atau Led Zeppelin, mereka hidup dengan enak hanya dari royalti kaset/VCD/CD/DVD yang mereka hasilkan. Sampai anak-anak dan istri mereka pun menikmati kelimpahan finansial ini.

Koes Plus hanya dibayar sekali untuk setiap album yang dihasilkan. Tidak ada royalti, tidak ada tambahan fee untuk setiap CD/kaset yang terjual. Maka tidak heran ketika tahun 1992 Yon harus jualan batu akik untuk menghidupi rumah tangganya. Sementara kaset dan CD lagunya masih laris terjual di Indonesia. Sekarang pun di usianya yang ke-63 Yon dan kawan-kawan (Murry beberapa kali tidak tampil karena sakit) membawa nama Koes Plus harus manggung untuk mendapatkan uang. Dengan sisa-sisa suara dan kekuatannya mereka harus menjual suara dan tenaganya. Yon memang tidak merasakan ini sebagai beban. Dia bersyukur lagunya masih dicintai orang. Tetapi kita prihatin mendengar kabar seperti ini.



Read More......

Semua Taentang Gombloh..


Gombloh (lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Juli 1948 – wafat di Surabaya, Jawa Timur, 9 Januari 1988 pada umur 39 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia dilahirkan dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono di Jombang sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka.

Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik.


Pendidikan

Gombloh mengenyam pendidikan di SMAN 5 Surabaya dan sempat belajar di jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak selesai. Meskipun Gombloh tergolong pintar, ia tidak pernah berniat kuliah di ITS. Karena itulah ia sering mengelabui ayahnya dengan berangkat ke sekolah, namun sekitar pk. 10 pagi ia kembali ke rumah dan tidur. Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan keras karena Gombloh terlalu banyak bolos.

Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur.

Karakter lagu ciptaannya

Gombloh adalah pencipta lagu balada sejati. Kerja samanya dengan Leo Kristi dan Franky Sahilatua di kelompok "Lemon Trees" membuatnya dekat dengan gaya orchestral rock.

Kehidupan sehari-hari rakyat kecil banyak digambarkan dalam lagu-lagunya, seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku. Sebagaimana penyanyi balada semasanya, seperti Iwan Fals dan Ebiet G. Ade, Gombloh juga tergerak menulis lagu tentang (kerusakan) alam. Lagu-lagu cintanya cenderung "nyeleneh", sama seperti karya Iwan Fals atau Doel Sumbang, misalnya Lepen ("got" dalam bahasa Jawa, tetapi di sini adalah singkatan dari "lelucon pendek").

Namun ciri khasnya adalah dari lagu-lagu ciptaannya yang bertema nasionalis, seperti Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, dan BK, lagu yang bertutur tentang Bung Karno, sang proklamator. Lagunya Kebyar Kebyar banyak dinyanyikan di masa perjuangan menuntut Reformasi.

Ia pernah pula merilis album berbahasa Jawa dengan interpretasinya yang progresif berjudul "Sekar Mayang". Sampai sekarang, rintisannya ini belum pernah diikuti oleh musisi lainnya. Hong Wilaheng, salah satu lagu berbahasa Jawa dari album "Berita Cuaca", mendapat pengaruh kuat dari gaya bernyanyi Leo Kristi dan liriknya diambil dari Serat Wedhatama.

Lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers", yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada 2000.


Kematian

Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit. Tubuhnya yang kurus memang banyak menyimpan berbagai penyakit, ditambah kebiasaan merokoknya yang sulit dihilangkan. Menurut salah seorang temannya, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin. Namun Gombloh pantang menyerah. Karena itulah ia mampu bertahan hidup cukup lama, meskipun dengan tubuh yang penyakitan.

Sangat disayangkan, Pemerintah Indonesia baru memberi perhatian terhadap karya seninya setelah dia meninggal untuk Lagu Gebyar-Gebyar. Semasa hidupnya lagu ini tidak mendapat perhatian sama sekali.


Mengenang Gombloh

Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu.


Diskografi

  1. Nadia dan Atmosphere (1978)
  2. Mawar Desa (1978)
  3. Kadar Bangsaku (1979)
  4. Kebyar Kebyar (1979)
  5. Pesan Buat Negeriku (1980)
  6. Sekar Mayang (1981, berbahasa Jawa)
  7. Terimakasih Indonesiaku (1981)
  8. Pesan Buat Kaum Belia (1982)
  9. Berita Cuaca (1982)
  10. Kami Anak Negeri Ini (1983)
  11. Gila (1983)
  12. 1/2 Gila (1984)
  13. Semakin Gila (1986)
  14. Apel (1986)
  15. Apa Itu Tidak Edan (1987)


Read More......

Sejarah Terbentuknya Slikpknot dan Para Anggotanya


Slipknot adalah sebuah band beraliran Nu Metal dari Des Moines, Iowa yang dibentuk pada 1995, Band ini telah beberapa kali mengganti anggotanya dan memiliki anggota tetap sejak 1999 yaitu: Sid Wilson, Joey Jordison, Paul Gray, Chris Fehn, James Root, Craig Jones, Shawn "Clown" Crahan, Mick Thomson, dan Corey Taylor. Sampai sekarang Slipknot Telah Nerilis 4 Buah Album, Band ini juga pernah mendapatkan Grammy Awards untuk kategori Best Metal Performance untuk lagu "Before I forget" pada tahun 2006, album ke 5 mereka yang bertajuk "All Hope Is Gone" akan dirilis pada 26 Agustus 2008


Anggota



Mantan anggota


Diskografi

Studio albums

Live albums

Videography

Read More......

Selasa, 17 Februari 2009

The Sex Pistols


The Sex Pistols are an English punk rock band that formed in London in 1975. The band are widely credited with initiating the punk movement in the United Kingdom[1] and creating the first generation gap within rock and roll.[2]

The Sex Pistols originally comprised vocalist Johnny Rotten, guitarist Steve Jones, drummer Paul Cook and bassist Glen Matlock. Matlock was replaced by Sid Vicious in early 1977. Although their initial career lasted only three years and produced only four singles and one studio album, Never Mind the Bollocks, Here's the Sex Pistols, the group has been described by the BBC as "the definitive English punk rock band."[3]

The Sex Pistols emerged as a response to the bombastic progressive rock and sentimental pop that dominated the music market in the mid-1970s.[4] Under the management of impresario Malcolm McLaren, the band created controversies which captivated Britain,[5] but often eclipsed their music.[6] Their concerts repeatedly faced difficulties with organisers and authorities and public appearances often ended in mayhem. Their 1977 single "God Save the Queen" was regarded as an attack on the monarchy and British nationalism.[7]

In January 1978, at the end of a turbulent US tour, Rotten left the band and announced its breakup. Over the next several months, the three other band members recorded songs for McLaren's film version of the Sex Pistols' story, The Great Rock 'n' Roll Swindle. Vicious died of a heroin overdose in February 1979. In 1996, Rotten, Jones, Cook and Matlock reunited for the Filthy Lucre Tour; they staged two further reunion shows in 2002, and undertook tours in 2003, 2007 and 2008. On 24 February 2006, the Sex Pistols were inducted into the Rock and Roll Hall of Fame, but they refused to attend the ceremony, calling the museum "a piss stain".[8]

Band members

Current members

  • Johnny Rotten – lead vocals (1975–1978, 1996–present)
  • Steve Jones – guitar, bass (studio), backing vocals (1975–1978, 1996–present)
  • Glen Matlock – bass, backing vocals (1975–1977, 1996–present)
  • Paul Cook – drums (1975–1978, 1996–present)

Former members

Read More......

Bon Jovi


Bon Jovi is an American hard rock band from Sayreville, New Jersey. Fronted by lead singer and namesake Jon Bon Jovi, the group originally achieved large-scale success in the 1980s. Over the past 25 years, Bon Jovi has sold over 120 million albums worldwide,[1] including 36 million in the United States alone.[2]

Bon Jovi formed in 1983 with lead singer Jon Bon Jovi, guitarist Richie Sambora, keyboardist David Bryan, bassist Alec John Such, and drummer Tico Torres. Other than the departure of Alec John Such in 1994 (which pared the lineup down to a quartet), the lineup has remained the same for the past 25 years. After two moderately successful albums in 1984 and 1985, the band scored big with Slippery When Wet (1986) and New Jersey (1988), which sold a combined 19 million copies in the U.S. alone, charted eight Top Ten hits (including four number one hits), and launched the band into global super stardom. After non-stop touring, the band went on hiatus after the New Jersey Tour in 1990, during which time Jon Bon Jovi and Richie Sambora both released successful solo albums. In 1992, the band returned with the double platinum Keep the Faith and has since created a string of platinum albums throughout the 1990s and 2000s.

In 2006, the band won a Grammy for best Country Collaboration for "Who Says You Can't Go Home" with Jennifer Nettles from Sugarland and also became the first rock band to reach #1 on the Hot Country Songs chart with the same song. The band has also received multiple Grammy nominations for music from the albums Crush, Bounce, and Lost Highway.

Throughout their career, the band has released ten studio albums, of which nine have gone platinum in US. They also have seven #1 albums in Australia, six #1 albums in Europe and Canada, five #1 albums in UK, four #1 albums in Japan, and three #1 albums on US Billboard charts. In addition, the band has charted 19 singles to the Top 40 of the Billboard Hot 100, six of which reached #1 - "You Give Love a Bad Name", "Livin' on a Prayer", "Bad Medicine", "I'll Be There for You" and "It's My Life" and Jon Bon Jovi's solo hit "Blaze of Glory". The band also holds the record for the most weeks for a hard rock album at #1 on the Billboard 200 with Slippery When Wet, as well as the most Top 10 singles from a hard rock album, with New Jersey, which charted five such singles.

Read More......

The Music Blues and Blues at 1960-1970


Blues is a vocal and instrumental form of music based on the use of the blues chord progressions and the blue notes. Though several blues forms exist, the 12-bar blues chord progressions are the most frequently encountered. Blue notes are sung or played at a slightly lower pitch than that of the major scale for expressive purposes. Blues emerged as an accessible form of self-expression in African-American communities of the United States from spirituals, work songs, field hollers, shouts and chants, and rhymed simple narrative ballads.[1] The use of blue notes and the prominence of call-and-response patterns in the music and lyrics are indicative of African influences. The blues influenced later American and Western popular music, as it became the roots of jazz, rhythm and blues, bluegrass and rock and roll. In the 1960s and 1970s, blues was popularized in a hybrid form called blues rock.

The term "the blues" refers to the "the blue devils", meaning melancholy and sadness; an early use of the term in this sense is found in George Colman's one-act farce Blue Devils (1798).[2] Though the use of the phrase in African American music may be older, it has been attested to since 1912, when Hart Wand's "Dallas Blues" became the first copyrighted Blues composition.[3][4] In lyrics the phrase is often used to describe a depressed mood.[5]

Musical style

During the first decades of the Twentieth Century, blues music was not clearly defined in terms of a chord progression.[6] There were many blues in 8-bar form, such as "How Long Blues", "Trouble in Mind", and Big Bill Broonzy's "Key to the Highway". Idiosyncratic numbers of bars are also encountered occasionally, as with the 9-bar progression in "Sitting on Top of the World". The basic twelve-bar lyric framework of a blues composition is reflected by a standard harmonic progression of twelve bars in 4/4 or (rarely) 2/4 time. Slow blues are often played in 12/8 (4 beats per measure with 3 subdivisions per beat).[citation needed]

By the 1930s, twelve-bar blues became the standard.[citation needed] There would also be 16 bar blues, as in Ray Charles's instrumental "Sweet 16 Bars" and in Herbie Hancock's "Watermelon Man".[citation needed] The blues chords associated to a twelve-bar blues are typically a set of three different chords played over a twelve-bar scheme:

I I or IV I I7
IV IV I I7
V V or VI I I or V

where the Roman numbers refer to the degrees of the progression. For example, if played in C, the chords would be as follows:

C C or F C C7
F F C C7
G G or F C C or G

When the IV chord is played in bar 2, the blues is called a "Quick-Change" blues.[citation needed]

In this example, C is the tonic chord, F the subdominant. Much of the time, some or all of these chords are played in the harmonic seventh (7th) form. Frequently, the last chord is the dominant (V) turnaround, marking the transition to the beginning of the next progression. In this example, G is the turnaround.

The use of the harmonic seventh interval is characteristic of blues and is popularly called the "blues seven" [7]. At a 7:4 ratio, it is not close to any interval on the conventional Western diatonic scale [8]. Through convenience or necessity it is often approximated by a minor seventh interval or a dominant seventh chord.

The lyrics generally end on the last beat of the tenth bar or the first beat of the eleventh bar, and the final two bars are given to the instrumentalist as a break; the harmony of this two-bar break, the turnaround, can be extremely complex, sometimes consisting of single notes that defy analysis in terms of chords. The final beat, however, is almost always strongly grounded in the dominant seventh (V7), to provide tension for the next verse.

Sheet music from "St. Louis Blues" (1914)

In melody, blues is distinguished by the use of the flattened third, fifth and seventh of the associated major scale.[9] These specialized notes are called the blue or bent notes. These scale tones may replace the natural scale tones, or they may be added to the scale, as in the case of the minor pentatonic blues scale, in which the flattened third replaces the natural third, the flattened seventh replaces the natural seventh and the flattened fifth is added between the natural fourth and natural fifth. While the twelve-bar harmonic progression had been intermittently used for centuries, the revolutionary aspect of blues was the frequent use of the flattened third, flattened seventh, and even flattened fifth in the melody, together with crushing—playing directly adjacent notes at the same time (i.e., diminished second)—and sliding, similar to using grace notes.[10] The blue notes allow for key moments of expression during the cadences, melodies, and embellishments of the blues. Where the three line verses end, for example, there is a falling cadence that approaches just shy of the tonic, combining the falling of a speaking voice with the shape of the blues scale in a unique, expressive way. This melodic fall, placed at the turnaround, is employed most clearly in the modern Chicago blues sound. A similar sound, melisma, occurs in gospel and R&B, but not to the same effect.[citation needed]

Whereas a classical musician will generally play a grace note distinctly, a blues singer or harmonica player will glissando, "crushing" the two notes and then releasing the grace note. In blues chord progressions, the tonic, subdominant and dominant chords are often played as harmonic seventh chords. (NB: While the harmonic seventh may be voiced easily on equally tempered instruments like the guitar, it is approximated by means of a minor seventh, which is a third of a semitone higher.) Blues is occasionally played in a minor key, such as in the style of Paul Butterfield. The scale differs little from the traditional minor, except for the occasional use of a flatted fifth in the tonic, often sung or played by the singer or lead instrument with the perfect fifth in the harmony. Janis Joplin's rendition of "Ball and Chain", accompanied by Big Brother and the Holding Company, provides an example of this technique. Minor-key blues is often structured in sixteen bars rather than twelve, in the style of gospel music, as in "St. James Infirmary Blues" and Trixie Smith's "My Man Rocks Me".[citation needed]

Blues shuffles reinforce the trance-like rhythm and call-and-response, and they form a repetitive effect called a groove. The simplest shuffles, used in many postwar electric blues, rock and roll, or early bebops, were a three-note riff on the bass strings of the guitar. When this riff was played over the bass and the drums, the groove "feel" is created. The walking bass is another device that helps to create a groove. The last bar of the chord progression is usually accompanied by a turnaround.

Shuffle rhythm is often vocalized as "dow, da dow, da dow, da" or "dump, da dump, da dump, da":[11] it consists of uneven, or "swung," eighth notes. On a guitar this may be played as a simple steady bass or it may add to that stepwise quarter note motion from the fifth to the sixth of the chord and back. An example is provided by the following guitar tablature for the first four bars of a blues progression in E:[12][13]

   E7                   A7                   E7                   E7
E |--------------------|--------------------|--------------------|--------------------|
B |--------------------|--------------------|--------------------|--------------------|
G |--------------------|--------------------|--------------------|--------------------|
D |--------------------|2--2-4--2-5--2-4--2-|--------------------|--------------------|
A |2--2-4--2-5--2-4--2-|0--0-0--0-0--0-0--2-|2--2-4--2-5--2-4--2-|2--2-4--2-5--2-4--2-|
E |0--0-0--0-0--0-0--2-|--------------------|0--0-0--0-0--0-0--2-|0--0-0--0-0--0-0--2-|

Blues in jazz is much different from blues in other types of music. Jazz blues normally stays on the V chord through bars 9 and 10, emphasizing the dominant-tonic resolution over the subdominant-tonic structure of traditional blues. This final V-I cadence lends itself to many variations, the most basic of which is the ii-V-I progression in bars 9, 10 and 11. From that point, both the dominant approach (ii-V) and the resolution (I) can be altered and "substituted" in a variety of ways, even including abandonment of the I chord altogether (bars 9–12: ii | V | iii, vi | ii, V |). In this case, bars 11 and 12 function as an extended turnaround to the next chorus.[citation needed]

Bluse 1960s and 1970s


By the beginning of the 1960s, genres influenced by African American music such as rock and roll and soul were part of mainstream popular music. White performers had brought African-American music to new audiences, both within the US and abroad. In the UK, bands emulated US blues legends, and UK blues-rock-based bands had an influential role throughout the 1960s.

Blues performers such as John Lee Hooker and Muddy Waters continued to perform to enthusiastic audiences, inspiring new artists steeped in traditional blues, such as New York-born Taj Mahal. John Lee Hooker blended his blues style with rock elements and playing with younger white musicians, creating a musical style that can be heard on the 1971 album Endless Boogie. B. B. King's virtuoso guitar technique earned him the eponymous title "king of the blues". In contrast to the Chicago style, King's band used strong brass support from a saxophone, trumpet, and trombone, instead of using slide guitar or harp. Tennessee-born Bobby "Blue" Bland, like B. B. King, also straddled the blues and R&B genres. During this period, Freddie King and Albert King often played with rock and soul musicians (Eric Clapton, Booker T & the MGs)and had a major influence on those styles of music.

The music of the Civil Rights[82] and Free Speech movements in the US prompted a resurgence of interest in American roots music and early African American music. As well as Jimmi Bass Music festivals such as the Newport Folk Festival[83] brought traditional blues to a new audience, which helped to revive interest in prewar acoustic blues and performers such as Son House, Mississippi John Hurt, Skip James, and Reverend Gary Davis.[84] Many compilations of classic prewar blues were republished by the Yazoo Records. J. B. Lenoir from the Chicago blues movement in the 1950s recorded several LPs using acoustic guitar, sometimes accompanied by Willie Dixon on the acoustic bass or drums. His songs commented on political issues such as racism or Vietnam War issues, which was unusual for this period. His Alabama Blues recording had a song that stated:


I never will go back to Alabama, that is not the place for me (2x)
You know they killed my sister and my brother,
and the whole world let them peoples go down there free

White audiences' interest in the blues during the 1960s increased due to the Chicago-based Paul Butterfield Blues Band and the British blues movement. The style of British blues developed in the UK, when bands such as Fleetwood Mac, John Mayall & the Bluesbreakers, The Rolling Stones, The Yardbirds, and Cream performed classic blues songs from the Delta or Chicago blues traditions.[85]

The British blues musicians of the early 1960s inspired a number of American blues rock fusion performers, including Canned Heat, Janis Joplin, Johnny Winter, The J. Geils Band, Ry Cooder and The Allman Brothers Band. Many of Led Zeppelin's earlier hits were renditions of traditional blues songs. One blues rock performer, Jimi Hendrix, was a rarity in his field at the time: a black man who played psychedelic rock. Hendrix was a skilled guitarist, and a pioneer in the innovative use of distortion and feedback in his music.[86] Through these artists and others, blues music influenced the development of rock music.[87]

In the late 1960s, the West Side style blues emerged in Chicago with Magic Sam, Magic Slim and Otis Rush.[88] West Side style has strong rhythmic support from a rhythm guitar, bass electric guitar, and drums. Albert King, Buddy Guy, and Luther Allison had a West Side style that was dominated by amplified electric lead guitar.[89][90] Since the early 1970s, The Texas rock-blues style emerged which used guitars in both solo and rhythm roles. In contrast with the West Side blues, the Texas style is strongly influenced by the British rock-blues movement. Major artists of the Texas style are Johnny Winter, Stevie Ray Vaughan, The Fabulous Thunderbirds, and ZZ Top. These artists all began their musical journey in the 1970s, but they did not achieve major international success until the next decade.[91]


Read More......